Ilustrasi aplikasi location-based sharing (Gambar: Atelier

Ilustrasi aplikasi location-based sharing (Gambar: Atelier)

Sebelum layanan microblogging seperti Twitter menjamur di Indonesia, ada layanan microblogging lokal yang sempat populer di negeri kita. Namanya Kronologger. Situs tersebut diluncurkan pada tahun 2006, sempat bertahan beberapa tahun, sebelum akhirnya ditutup tahun 2010.

Namun, beberapa hari yang lalu, salah satu pendiri Kronologger, Kukuh TW, mengumumkan dibukanya kembali Kronologger. Kali ini, situs tersebut telah menjalani pivot, berubah dari situs microblogging menjadi tempat berbagi sesuatu, baik itu status, informasi, marketplace, hingga berbagi file.

Logo Kronologger

Logo Kronologger

Menariknya, Kronologger tak memerlukan akun untuk login, sehingga pengguna bisa berbagi secara anonim. Jangkauan berbaginya juga hanya dalam radius lokasi tertentu, hanya 1 kilometer saja dari tempat kita mengakses situs tersebut.

“[Kronologger] mirip seperti quack.space location based file sharing,” ungkap Kukuh ketika dihubungi oleh Netnesia. “Di Kronologger, file yang disharing bisa diprotek pakai password, file video dan audio bisa langsung diplay,” tambahnya menjelaskan fitur di kronologger.

Memang, saat ini di luar negeri sedang booming situs berbagi sesuatu berdasarkan lokasi, seperti quack.space yang disebutkan Kukuh, Secret.ly, Whisper, hingga Yik Yak. Semuanya memanfaatkan lokasi pengguna sehingga pembagian informasinyapun hanya mencangkup radius tertentu. Misalnya saja Yik Yak, aplikasi yang berkantor pusat di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat ini memiliki jangkauan berbagi informasi dalam radius 10 mil (sekitar 16 km) dari lokasi pengunggah informasi.

Salah satu percakapan di Kronologger pada area penulis Netnesia berada

Salah satu percakapan di Kronologger pada area penulis Netnesia berada

Di Kronologger, nantinya kita bisa mempromosikan barang jualan kita, menginformasikan berita lokal, hingga bisa berbagi file. Misalnya kita berada di area kampus, kita bisa menginformasikan ke orang-orang di sekitar area kampus akan acara tertentu. Kita juga bisa upload file materi acara misalnya. Kelebihannya, file tersebut bisa diproteksi menggunakan password. Ukuran file maksimal yang bisa diupload saat ini sebesar 5MB.

Dalam mempromosikan Kronologger kepada puluhan ribu followernya, Kukuh menceritakan pengalamannya hampir kecopetan di Kopaja jurusan Tanah Abang ke Blok M. Namun, pesan tersebut hanya akan bisa diakses di sekitar Senayan, karena ia membagikannya di daerah tersebut. “Kalau elo buka kronologger.com, kebetulan posisi di sekitaran Senayan, elu bisa nemu ceritanya.. karena kronologger.com adalah location based messages board plus location based file sharing,” ungkapnya menuturkan kejadian nyata yang ia alami sembari berpromosi.

Contoh screenshot (Gambar: Kukuh TW)

Contoh screenshot Kronologger (Gambar: Kukuh TW)

Saat ini Kukuh masih mengembangkan Kronologger yang baru dirilis kembali 21 April 2015 ini. Ia juga sedang mencari freelancer untuk mengurusi user interface ‘tampilan antarmuka’ Kronologger. Saat ini, tampilan kronologer masih minimalis, penggunanya juga masih belum banyak. Kedepan, ia akan merilis API (Application Program Interface) Kronologger untuk publik. “Supaya bisa dibagian developer lain,” tulisnya kepada Netnesia.